
MEDAN,(infokasus24.com) — Nasib naas menimpa pasangan suami istri (pasutri) Sudirman dan Sutriani, warga Mabar, Medan Deli. Mobil Toyota Rush milik mereka yang menjadi satu-satunya sumber mata pencaharian diduga digelapkan oleh oknum Marinir berpangkat Kopda dengan inisial MI. Disampaikan kepada pihak Media, Kamis (24/9).
Kopda MI, yang bertugas di Yonmarhanlan Yonif 8 Pangkalan Berandan, menyewa mobil korban sejak 22 Juli 2026 dengan dalih rental. Namun, hingga saat ini kendaraan berpelat nomor BK 1872 AEF tersebut tak kunjung dikembalikan. Korban mengaku mengalami kerugian materiil hingga Rp200 juta.
Kasus penggelapan ini telah dilaporkan ke Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal) Kodaeral I Medan Belawan dengan Nomor LP STPL/04/VIII/2026. Korban juga telah menyurati Komandan Daerah Angkatan Laut (Dankodaeral) I, Laksamana Muda TNI Deny Septiana, untuk memohon perlindungan hukum serta kepastian penanganan kasus.
Minta Uang Tebusan Rp75 Juta
Menurut keterangan korban, insiden ini bermula dari rasa percaya karena orang tua oknum pelaku merupakan tetangga mereka. Pelaku awalnya menyewa mobil selama lima hari dengan tarif Rp300 ribu per hari, lalu memperpanjangnya selama dua hari.
Meski sempat dimediasi di markas Pomal bersama orang tuanya, Kopda MI tak kunjung menepati janji untuk mengembalikan kendaraan tersebut. Belakangan, korban justru dihubungi oleh pihak tak dikenal di Kota Binjai yang meminta uang tebusan sebesar Rp75 juta jika ingin mobilnya kembali.
Pelaku Kabur dan Dalam Pengejaran
Menanggapi laporan masyarakat ini, pihak Kodaeral I memastikan proses hukum sedang berjalan.
• Status Pelaku: Kopda MI diketahui telah melarikan diri dari kesatuannya.
• Tindakan POM: Tim Pomal Kodaeral I tengah melakukan pengejaran di lapangan.
• Sanksi Disersi: Jika dalam tenggat waktu 14 hari keberadaannya tidak ditemukan, yang bersangkutan akan resmi dinyatakan diserse (desersi).
Korban berharap aparat penegak hukum di lingkungan TNI AL bergerak cepat menangkap pelaku dan mengembalikan armada rental yang menjadi penopang utama ekonomi keluarga mereka. (BM-red).







